Minggu, 30 Desember 2018

Kesenian Lais kesenian yang mendebarkan


Lais merupakan suatu jenis pertunjukan rakyat di Jawa Barat yang mirip akrobat  Tetapi, karena kegiatan apa pun dalam masyarakat Sunda tradisional ini selalu tidak lepas dari kepercayaan penduduknya, maka keterampilan akrobatik yang dilakukan oleh pemain-pemain lais itu pun dipercaya mendapat bantuan gaib. Selain itu, tentu saja lais juga diberi nafas seni dengan dimasukkannya tetabuhan dan dilantunkannya lagu-lagu selama pertunjukan.
Pertunjukan lais terutama mempertontonkan keterampilan satu atau dua orang pemain lais yang berjalan atau duduk di atas tali tambang yang direntangkan di antara dua ujung bambu. Tali tambang tersebut selalu bergoyang dan bambunya pun bergerak-gerak selagi menyangga beban dan gerakan pemain lais tersebut.

Lais terdapat di Kabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon dan Bandung. Lais dapat disaksikan pada acara-acara kenegaraan, hajatan, pernikahan ataupun khitanan.

Cara penyajian pertunjukan lais dilakukan dengan terlebih dahulu memancangkan dua leunjeur (batang) awi gombong (bambu berbumbung besar) di tanah serta merentangkan tali tambang pada kedua ujung bambu tersebut. Tali tambang  kemudian diikatkan pada kedua ujung bambu yang dipancangkan tersebut lalu tetabuhan pun dibunyikan sebagai pembukaan juga sebagai pemberitahuan bahwa permainan akan segera dimulai. Hal ini dilakukan untuk mengundang penonton dan sebagai pemanasan suasana.

Ketika permainan dimulai, sang dukun (pawang) lais pun siap dengan perlengkapan upacaranya, yaitu sesajen (sesajian) dan pedupaan (kukusan). Bersamaan dengan bunyi tetabuhan, dibakarlah kemenyan dalampedupaan tadi serta mantera-mantera pun dibacakan. Upacara ini dimaksudkan agar si pemain lais  diberi kekuatan, kelincahan, keterampilan serta keselamatan di dalam permainannya.
Busana yang dikenakan oleh pemain lais yaitu busana yang biasa dipakai oleh wanita seperti kain dan kebaya, terutama pemain lais di Priangan. Dengan langkah gemulai, pemain lais yang menurut kepercayaan mulai kemasukan roh gaib  itu menari-nari mendekati salah satu tiang bambu. Ia menyelipkan sebuah payung di pinggangnya. Pada  saat itu terjadilah percakapan antara pemain lais dan pawang. Percakapannya yaitu sebagai berikut:
Pawang: “Rek ka mana, Nu Geulis?”(Mau ke mana, Cantik?)
Si Lais  : “Apan rek ulin.” (Kan mau main.)
Pawang: “Nyandak naon?” (Membawa apa?)
Si Lais : “Ieu payung bisi panas jeung duwegan bisi halabhab.” (Ini payung kalau-kalau kepanasan dan kelapa muda kalau-kalau kehausan.)
Pawang: “Pek atuh geura amengan.” (Silakan kalau mau main.)
Sambil menari lagi, Si Lias terus mendekati tiang bambu lalu dengan cekatan  memanjat tiang bambu tersebut seperti seekor kera. Cara memanjatnya yaitu dengan tidak merapatkan tubuh ke ke batang bambu, melainkan dengan menggunakan tangan dan kakinya.

Ketika Si Lais memanjat batang bambu, tabuhan pengiring dibunyikan semakin keras sampai Si Lais tersebut mencapai puncak batang bambu. Setelah sampai pada tali tambang yang direntangkan, kemudian Si Lais pun duduk di ujung bambu dengan santai dan berleha-leha, lalu ia menyanyi namun hanya suara gumamnya saja tanpa kata-kata. Pawang yang berada di bawah bertanya lagi sambil menengadahkan kepalanya.
Pawang : “Hey, Geulis, keur naon?” (Hey, Cantik,  sedang apa?)
Si Lais   : “Apan ieu keur senang-senang!” (Kan ini lagi bersenang-senang.)
Pawang : “Cing, Geulis, ngojay kawas bangkong.” (Cobalah, Cantik, kamu berenang seperi katak.)
Si Lais   : “Mangga,” sambil tersenyum
Kemudian Si Lais pun menelungkup pada ujung bambu dan menekankan perutnya serta membuat gerakan seperti sedang berenang.
Si Lais : “Aduh capejeung hanaang.” (Aduh ,saya capek dan haus).
Si Lais kemudian duduk lagi pada ujung bambu, lalu membelah kelapa muda yang dibawanya dengan golok. Selain gerak-gerik Si Lais yang terampil itu, kelakuannya pun membuat hati penonton berdebar terutama para penonton wanita. Ketika Si Lais membelah kelapa muda, yang digunakan sebagai tahanan adalah lututnya dan air kelapa itu pun diminum sambil lalagedayan (berleha-leha atau berbaring dengan santai sambil bergoyang kaki). Setelah meminum habis air kelapa muda itu, Si Lais pun turun dengan cara menyusuri bambu dengan meluncur.

Setelah sampai di bawah, Si Lais menari-nari dan golok yang dibawanya diletakkan di dekat para penabuh, kemudian ia naik kembali sampai ke puncak tiang bambu dan berdiri di sana. Ia mengambil payung yang diselipkan di pinggangnya. Dengan menggunakan payung itu, ia meniti(berjalan) di atas tali tambang yang direntangkan tadi.

Di tengah-tengah tambang tersebut ia menari, menyanyi dan mengayun-ayunkan badannya. Atraksi tersebut merupakan puncak dari permainan lais. Banyak diantara penonton yang menahan nafas dan ada pula yang berteriak karena merasa khawatir Si Lais jatuh terutama para penonton wanita. Si Lais berpura-pura memperlihatkan gerakan kalau ia terpelesest, sehingga membuat penonton menjadi histeris. Dalam kepura-puraannya itu ia  berceloteh. “Aduuh …… Wah …… Awas,” dan … “La la la,” ia bernyanyi tak henti-hentinya.  

Setelah puas mempermainkan penonton, ia pun berjalan menuju ujung yang lain, kemudian sambil berdiri di ujung tersebut ia pun menari mengikuti irama tetabuhan dari bawah.

Setelah selesai, Si Lais pun turun dengan cara meluncur. Tetabuhan dari bawah terus dibunyikan dan peniup terompet pun meniup tarompetnya dengan lagu-lagu yang riang. Hal ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada pemain lais untuk beristirahat.
Setelah selesai beristirahat, Si Lais pun kembali memanjat bambu tersebut. Ia memperlihatkan permainannya yaitu dengan berayun-ayun di tengah tambang dengan kaki tergantung. Sambil berjalan di atas tambang, ia membuka pakaian wanita yang dipakainya dengan ngorondang(merangkak).
Setelah menyelesaikan pertunjukannya, ia pun turun kembali menyusuri tambang dan ini merupakan akhir dari pertunjukan lais Si Lais kemudian dibawa ke dalam rumah oleh pawang. Ketika keluar, Si Lais tersebut bersikap seperti biasa dan pakaiannya sudah diganti dengan pakaian biasa.
Pertunjukan lais memakan waktu setengah hari atau bahkan sehari penuh, tergantung kepada yang mengundangnya. Waditra yang digunakan untuk mengiringi pertunjukkan lais sama dengan waditra yang digunakan dalam kendang penca, tetapi ditambah dengan dogdog dan angklung. Para pemain lais terdiri dari laki-laki yang sudah dewasa sebanyak 6 orang, yaitu satu orang pemain lais, satu orang pawang yang kadang-kadang merangkap menjadi pimpinan lais dan yang lainnya adalah para penabuh.
Permainan lais biasanya diadakan di arena terbuka seperti di lapangan atau alun-alun yang tempatnya dianggap luas untuk menancapkan tiang bambu dengan jarak 10-15 meter antara tiang bambu yang satu dengan tiang bambu yang lainnya. Pertunjukan lais bukan merupakan bagian dari suatu upacara. Oleh karena itu, dapat dipanggil setiap saat. Permainan lais ini diturunkan oleh keluarga ke setiap generasi penerusnya.

Lais adalah pentas serupa sintren, tetapi penarinya laki-laki. Berbekal tekad dan bekal keturunan seniman sintren, Indah pun memantapkan hati. Dia belajar dengan tekun dalam sehari agar bisa semaksimal mungkin mementaskan sintren. “Belajarnya dua kali, malam dan pagi hari. Akhirnya, pentas berjalan lancar,” ujar Indah diamini Kursilah.

Saat itu, “guru kilat” Indah adalah sang kakak, Didi Suhandi (40),yang telah sebelumnya sering berperan sebagai lais. Darah kesenian tradisional Cirebonan memang kental pada keluarga itu. Putra bungsu Kursilah, Diding Ruhandi, juga ambil bagian dalam pentas lais dan sintren, sebagai pemain musik.

Kursilah mengatakan, meski sekarang banyak dimainkan anak-anak remaja, faktor keturunan berpengaruh penting dalam kesakralan pentas sintren. “Jika memang ada keturunan, latihan mudah dan hasilnya bagus,” ujarnya.
Sebagai sesepuh Kelompok Suryanegara, Kursilah berusaha mendidik beberapa orang untuk menjadi sintren. “Sejauh ini belum berhasil. Selalu ada kekurangan, seperti gerakan yang tidak luwes,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Kursilah maupun Indah mengatakan, tidak mudah mendidik seseorang menjadi sintren atau lais. Selain faktor keturunan, ketekunan juga harus dijalani seorang sintren dan lais.
“Sebelum berhasil, calon harus puasa,” kata Diding Ruhandi, yang juga staf di Badan Komunikasi dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.

Sebagai pemain, Indah mengatakan ada unsur magis dalam pentas sintren. Tanpa unsur itu, sulit bagi seseorang-dalam kondisi terikat- ganti baju, dan mendandani muka dalam waktu singkat. Terlebih, aktivitas itu dilakukan dalam kurungan ayam yang ukurannya terbatas.
“Untuk berdiri saja tidak bisa,” kata Indah, yang sehari-hari menjadi pengolah rajungan.
Pegiat seni Indramayu, Acep Syahril, berpendapat, ada teknik tertentu yang bisa dipelajari dalam melepas tali dan berdandan.

Namun, menurut Indah, setiap saat “menjadi” sintren, ia dalam kondisi setengah sadar. Kondisi itulah yang memungkinkan dirinya berdandan total dalam waktu sangat singkat, sekitar tiga menit. “Dalam kondisi normal, waktu segitu tidak cukup meski untuk ganti baju saja,” ujar Indah. Sintren “buhun”
“Kursilah mengatakan, sejauh ini kelompoknya mempertahankan keaslian kesenian sintren. “Makanya dinamakan sintren buhun (kuno),” ujar Kursilah.

Hal itu ditunjukkan dengan terbatasnya alat musik yang digunakan, hanya lima jenis, yaitu buyung kecil dan buyung besar, tutukan, kecrek, dan keneng.
Selain mempertahankan keaslian, Kursilah juga membatasi jumlah pementasan, hanya untuk acara resmi. “Kami tidak melayani permohonan tampil pada acara hajatan,” ujarnya. Mereka tidak hanya tampil di Cirebon, tetapi juga di Bandung dan Jakarta.
Sering tampil di depan tamu kabupaten membuat Indah merasa bangga. “Waktu ada acara yang dihadiri orang Mesir, mereka kagum dan sempat tidak percaya. Namun, setelah melihat ikatan talinya, mereka percaya,” kata Indah.

Bila tampil dalam acara resmi, waktu pentas terbatas. “Paling setengah jam saja, padahal penonton ingin lebih lama,” kata Kursilah. “Padahal, bila pentas lebih lama, sawernya tambah banyak,” katanya. Sekali pentas, saweran bisa sampai jutaan rupiah. 

Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama ‘Laisan” yang sehari – hari dipanggil Pak Lais. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet. Kesenian ini sudah ada sejak Jaman Penjajahan Belanda.

 Kesenian ini merupakan sebuah kesenian pertunjukan akrobatik dalam seutas tali sepanjang 6 meter yang dibentangkan dan dikaitkan diantara dua buah bamboo dengan ketinggian 12 sampai 13 meter.
Kesenian Lais di ambil dari nama seseorang yang sangat terampil memanjat pohon kelapa yang bernama ”Laisan” yang sehari-hari di panggil Pak Lais. Lais ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda, tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kec. Sukawening. Atraksi yang di tontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog, kendang penca, dog-dog dan terompet.

sumber tulisan : https://amochiqal89.wordpress.com/2008/04/16/kesenian-lais/
Sumber visual :https://www.youtube.com/watch?v=1Ew2uAwzVd0

Jumat, 28 Desember 2018

Sekilas Mengenal Citarum Harum

Oleh : Drs. Iwan Rudi Setiawan, MM
Sekretaris Umum YPSBS

Sungai Citarum adalah sungai terpanjang di Jawa Barat, dengan panjang  300 Km. berawal dari Cisanti Kabupaten Bandung dan berakhir di kabupaten karawang. Secara tradisional, hulu Citarum dianggap berawal dari lereng Gunung Wayang, di tenggara Kota Bandung, di wilayah Desa Cibeureum, Kertasari, kabupaten Bandung.  Ada tujuh mata air yang menyatu di suatu danau buatan bernama Situ Cisanti di wilayah Kabupaten Bandung. Namun, berbagai anak sungai juga menyatukan alirannya ke Citarum, seperti Cikapundung dan CiBeet. Alirannya  kemudian mengarah ke arah barat, melewati Majalaya dan Dayeuhkolot, lalu berbelok ke arah barat laut dan utara, menjadi perbatasan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung Barat, melewati Kabupaten Purwakarta, dan terakhir Kabupaten Karawang (batas dengan Kabupaten Bekasi). Sungai ini bermuara di Ujung Karawang.
Berikut ini adalah sebagian dari anak sungai yang mengalir ke Ci Tarum:

Ci Beet
Ci Kao
Ci Somang
Ci Kundul
Ci Balagung
Ci Sokan
Ci Meta
Ci Minyak
Ci Lanang
Ci Jere
Ci Haur
Ci Mahi
Ci Beureum
Ci Widey
Ci Sangkuy
Ci Kapundung
Ci Durian
Ci Pamokolan
Ci Tarik
Ci Keruh
Ci Rasea.

Dalam perjalanan sejarah Sunda, Citarum erat kaitannya dengan Kerajaan Taruma, kerajaan yang menurut catatan-catatan Tionghoa dan sejumlah prasasti pernah ada pada abad ke-4 sampai abad ke-7. Komplek bangunan kuno dari abad ke-4, seperti di Situs Batujaya dan Situs Cibuaya menunjukkan pernah adanya aktivitas permukiman di bagian hilir. Sisa-sisa kebudayaan pra-Hindu dari abad ke-1 Masehi juga ditemukan di bagian hilir sungai ini.
Sejak runtuhnya Taruma, Citarum menjadi batas alami Kerajaan Sunda dan Galuh, dua kerajaan kembar pecahan dari Taruma, sebelum akhirnya bersatu kembali dengan nama Kerajaan Sunda.

Keadaan lingkungan sekitar Citarum telah banyak berubah sejak paruh kedua dasawarsa 1980-an. Industrialisasi yang pesat sejak akhir 1980-an di kawasan sekitar sungai ini telah menyebabkan menumpuknya limbah buangan pabrik-pabrik di Citarum.

Setiap musim hujan wilayah Bandung Selatan di sepanjang Ci Tarum selalu dilanda banjir. Setelah kejadian banjir besar yang melanda daerah tersebut pada tahun 1986, pemerintah membuat proyek normalisasi sungai Ci Tarum dengan mengeruk dan melebarkan sungai bahkan meluruskan alur sungai yang berkelok. Tetapi hasil proyek itu tampaknya sia-sia karena setelahnya tidak ada perubahan perilaku masyarakat sekitar, sehingga sungai tetap menjadi tempat pembuangan sampah bahkan limbah pabrik pun mengalir ke Ci Tarum. Bertahun kemudian, keadaan sungai bahkan bertambah buruk, sempit dan dangkal, penuh sampah, dan di sebagian tempat airnya pun berwarna hitam pekat.

Forum Tujuh Tiga (Fortuga) Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan titik awal perjalanan menyusuri Sungai Citarum. dengan menggunakan perahu karet selama tujuh hari mulai Senin (13/5) hingga Ahad (19/5). Setiap kelokan sungai yang memiliki sejarah dan titik rawan pencemaran limbah dicatat untuk dijadikan bahan kajian. Tujuannya adalah ingin mengetahui kadar kualitas di hulu hingga hilir sungai terpanjang di Jabar ini.
Berdasarkan hasil kajian tim Fortuga, bahwa tercemarnya sungai citarum yang sangat berat terjadi mulai dari wilayah kopo sampai ke curug jompong, hal ini diakibatkan banyaknya pabrik-pabrik disekitar bantaran sungai Citarum yang membuang limbahnya ke sungai citarum.

Tercemarnya sebuah sungai akan terlihat dari warna sungai tersebut, kemudian adanya bau yang menyengat dan terakhir tumbuhnya gulma di atas permukaan air seperti tumbuhnya eceng gondok.
Upaya yang dilakukan dalam mengembalikan kondisi citarum dengan melakukan pengerukan, penyodetan tempat-tempat yang bisa menghambatnya aliran sungai, dan melakukan penanaman hutan kembali. Namun sayang seribu sayang, dana yang mencapai milyaran rupiah  tersebut masih belum membuahkan hasil yang diharapkan agar sungai Citarum bersih, dan dapat diminum langsung.

Perhatian tentang kondisi sungai citarum ini sudah mulai digaungkan oleh  Bapak Solihin GP (semasa jadi Gubernur Jawa barat), Ahmad Heryawan, hingga diteruskan oleh Ridwan Kamil, bahkan presiden Jokowi pun turun tangan sampai mengeluarkan Peraturan Presiden  Nomor 15 tahun 2018 tentang Percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan Das Citarum .

Dalam perpres tersebut. Disebutkan bahwa Sungai Citarum merupakan sungai strategis nasional, dan sudah terjadi pencemaran dan keruksakan lingkungan sehingga mengakibatkan terjadinya kerugian  yang besar.   bahwa untuk penanggulangan pencemaran dan kerusakan DAS Citarum perlu diambil langkah-langkah percepatan dan strategis secara terpadu untuk pengendalian dan penegakan hukum, yang mengintegrasikan kewenangan antarlembaga pemerintah dan pemangku kepentingan terkait guna pemulihan DAS Citarum;

Untuk melakukan percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum secara terpadu dibentuk Tim Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum, yang selanjutnya dalam Peraturan Presiden ini disebut Tim DAS Citarum.

Tim DAS Citarum bertugas mempercepat pelaksanaan dan keberlanjutan kebijakan pengendalian DAS Citarum melalui operasi pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan, serta pemulihan DAS Citarum secara sinergis dan berkelanjutan dengan mengintegrasikan program dan kegiatan pada masingmasing kementerian/lembaga dan pemerintah daerah termasuk optimalisasi personel dan peralatan operasi.
Kegiatan ini didukung oleh berbagai kementrian, Panglima TNI, Kepolisian, hingga kejaksaan. Adapun pelaksana tugas ini diserahkan kepada Satuan Tugas (Satgas) dibawah komado Gubernur Jawa Barat, Pangdam III Siliwangi, Pangdam Jayakarta, Kepolisian Daerah Jawa Barat, Metropolitan Jakarta, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa barat.

Dalam pelaksanaannya Satgas berwenang seperti dalam pasal 9 ayat 2 menyatakan Dalam melaksanakan tugasnya, Satgas berwenang:
a. menetapkan rencana aksi pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum denganberpedoman pada kebijakan yang ditetapkan Pengarah;
b. melokalisasi dan menghentikan sumber pencemaran dan/atau kerusakan Sungai Citarum;
c. meminta keterangan, data dan/atau dokumen termasuk memasuki dan memeriksa pabrik, tempat usaha, pekarangan, gudang, tempat penyimpanan, dan/atau saluran pembuangan limbah pabrik/tempat usaha sewaktu-waktu diperlukan;
d. mencegah dan melarang masyarakat untuk masuk kembali untuk mendirikan permukiman di wilayah yang memiliki fungsi lindung;
e. membentuk Komando Sektor yang dipimpin oleh perwira Tentara Nasional Indonesia sebagai Komandan Sektor;
f. membagi wilayah kerja DAS Citarum berdasarkan Komando Sektor;
g. mengikutsertakan  mengikutsertakan kementerian / lembaga, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam pelaksanaan tugas Komando Sektor, disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan operasi penanggulangan, pencegahan, dan pemulihan ekosistem DAS Citarum, serta penindakan hukum;
h. memerintahkan Komando Sektor untuk melaksanakan operasi penanggulangan pencemaran dan kerusakan DAS Citarum di lokasi yang ditentukan oleh Satgas; dan
i. melakukan kegiatan pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum sesuai dengan tugas dan kewenangan Satgas apabila rencana aksi sebagaimana dimaksud pada huruf a belum ditetapkan.

Sahlah sudah program Citarum Harum bestari ini, sehingga nama satgasnya menjadi Satgas Citarum Harum Bestari.

Selanjutnya apakah masyarakat terlibat di dalamnya. Dalam  BAB VII pasal 18 tentang keterlibatan masyarakat, bahwa masyarakat berpartisipasi dalam upaya pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan, serta pemulihan DAS Citarum. Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas individu, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, filantropi, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dengan demikian, maka nyatalah disini bahwa masyarakatpun perlu dilibatkan, karena apa gunanya terjadinya sebuah perbaikan apabila perbaikan-perbaikan tersebut tidak dirawat, dijaga  dan dipelihara . Sehingga pola pikir masyarakat harus dirubah untuk tidak meruksak, mencemari aliran sungai Citarum ini.

Yayasan Pengembangan Seni Budaya Sunda (YPSBS) sangat peduli akan kondisi lingkungan sekitarnya. Apalagi lokasi YPSBS berdekatan dengan Saguling, sehingga dipandang perlu untuk turut menjaga, merawat dan memeliharanya.

Apa action dari YPSBS terhadap lingkungan tersebut. Kita nantikan aksi berikutnya yang membikin orang-orang terinspirasi. Bila diikuti maka Citarum Harum dan bestari akan terwujud.

Semoga


Inilah penampakan YPSBS melakukan gerakan Citarum Harum bersama masyarakt Sukatani Cililin, Babinsa Koramil Cililin dan Anggota Satgas Citarum Bersih, disekitar area Waduk Saguling.








Selasa, 25 Desember 2018

Upacara Adat Mapag Panganten di YPSBS

 Sebuah rasa yang mengungkapkan rasa kegembiraan dan rasa bersyukur terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta ala, manusia mengungkapkannya dengan berbagai cara, Demikianpun  masyarakat sunda yang sering mengungkapkan rasa bersyukurnya dengan melakukakan ritual atau upacara adat.

Upacara adat ini berbagai jenis acara, tergantung bentuk dari peristiwa yang terjadi, yang sering dilakukan adalah upacara adat Mapag Panganten, dimana tuan rumah sebagai panganten awewe, menyambut kedatangan calon panganten lalaki.

Upacara adat mapag panganten ini merupakan acara sakral namun menghibur buat yang menghadirinya, dan ini merupakan simbul dari kesetrataan sosial, semakin meriah acara tersebut maka semakin tinggi tingkat kesetraannya.

Yayasan Pengembangan Seni Budaya Sunda (YPSBS), sudah sering menerima panggilan untuk upacara adat mapag panganten ini.


Gambar mungkin berisi: 1 orang, di panggung

Untuk paket Upacara adat sunda mapag panganten diantaranya adalah :
 1.Penari Badaya atau Merak
2.Penari Baksa
3.Penari Aki dan Nini lengser
4.Penari Payung Agung
5.Penari Rama dan Shinta
6.Rampak Kendang
 7.Upacara adat sunda,sawer,sungkem, meuleum harupat/injak telur, huap lingkung, taribakakak
8. MC akad dan Resepsi
9.Siraman
10.Sounds sistem
Serahkan pada team kami agar hari bahagia anda menjadi manis dan indah untuk di kenang
untuk informasi lebih lengkap silahkan Tlp.WA 081389048362Abah Wasta.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang di panggung dan luar ruangan


Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk, makanan dan luar ruangan